Bhayangkari Daerah Papua Tanam 200 Bibit Pohon Mangrove di Pesisir Pantai Mendug

Jayapura, – Bhayangkari Daerah Papua menanam sebanyak 200 bibit pohon mangrove di pesisir Pantai Mendug, Teluk Youtefa, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, Sabtu.

“Kami Bhayangkari daerah Papua melakukan penanaman bibit mangrove sebanyak 200 bibit. Besar harapan kami kegiatan yang kami lakukan pada pagi hari ini dapat membawa manfaat yang besar bagi lingkungan sekitar,” kata Ketua Pengurus Bhayangkari Daerah Papua Roma Paulus Waterpauw pada kegiatan yang merupakan rangkaian rangka HUT Yayasan Kemala Bhayangkari ke 40 Tahun 2020.

Roma Paulus Waterpauw yang didampingi Wakil Ketua Pengurus Bhayangkari Daerah Papua, Pinta Yakobus Marjuki dan Nova Patrige Renwarin serta anak-anak TK dan guru Bhayangkari mengatakan mangrove merupakan salah satu ekosistem esensial di dunia yang sangat besar manfaatnya bagi penduduk Indonesia yang tinggal di pesisir pantai.

“Pohon mangrove untuk mencegah abrasi dan tsunami serta peresapan air laut ke daratan dan mencegah timbulnya bencana alam banjir akibat curah hujan yang tinggi,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, kata dia, Bhayangkari Daerah Papua mengajak anak-anak TK dengan maksud memberikan edukasi dan mengajarkan sejak dini tentang peduli terhadap lingkungan.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama dalam melestarikan lingkungan sekitar kita dengan menanam pohon. Hutan mangrove memiliki peranan penting dan manfaat yang banyak baik langsung maupun tidak langsung bagi lingkungan sekitarnya khususnya bagi penduduk pesisir,” katanya.

Secara umum hutan bakau atau mangrove mempunyai definisi sebagai hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut tepatnya di daerah pantai dan sekitar muara sungai.

“Sehingga tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Salah satu manfaat dan peranan hutan mangrove yaitu mencegah terjadinya erosi dan abrasi pantai,” katanya.

Sementara erosi, kata dia, merupakan pengikisan permukaan tanah oleh aliran air sedangkan abrasi merupakan pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak laut.

“Hutan mangrove memiliki akar yang efisien dalam melindungi tanah di wilayah pesisir, sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air. Sehingga mari, kita semua warga Papua dan khususnya Kota Jayapura menanam mangrove sebagai bentuk perlindungan pesisir pantai dan juga pelestarian lingkungan,” katanya. (Ant)